Catatan Anak Bangsa | Presisi24jam.com-
Bencana besar yang melanda Sumatera mulai dari banjir bandang di Sumatera Barat, longsor mematikan di Sumatera Utara, hingga kerusakan parah di Aceh yang telah menunjukkan satu pola yang tidak bisa lagi diabaikan: hulu-lah yang runtuh, hilir-lah yang mati. Dan salah satu titik kritis yang berada di jantung masalah ini adalah Sibolangit, kawasan hulu paling dekat dengan Kota Medan yang selama bertahun-tahun dibiarkan rusak tanpa pengendalian.
Al Farhan Naufal Makarim S.Psi., pemerhati lingkungan, mengajak seluruh masyarakat membuka mata. Menurutnya, rangkaian tragedi di tiga provinsi ini adalah alarm keras bahwa cara kita memperlakukan alam sudah melewati batas. Ia menilai, apa yang terjadi hari ini bukan sekadar fenomena cuaca ekstrem, tetapi hasil dari kerusakan hulu yang tidak pernah ditangani. Dan Sibolangit adalah contoh paling nyata.
Farhan menjelaskan bahwa Sibolangit seharusnya menjadi benteng ekologis bagi jutaan warga di Tanah Karo, Deli Serdang, hingga Kota Medan. Namun selama dua dekade terakhir, kawasan itu berubah menjadi ruang pembangunan liar: vila merambah lereng, wisata memadat tanpa kendali, kebun dan pemukiman menekan area resapan air, sementara vegetasi asli yang menopang tanah menghilang satu per satu. Ketika akar-akar itu hilang, bumi berhenti mampu menahan air—dan bencana hanya menunggu hujan berikutnya.
Menurut Farhan, apa yang terjadi di Sumbar, Sumut, dan Aceh memiliki benang merah yang sama: hulu yang rusak. “Tidak ada banjir bandang besar tanpa kerusakan besar di area hulunya. Tidak ada longsor dahsyat tanpa hilangnya penahan tanah,” ungkapnya. Ia menyebut fenomena ini sebagai “pesan keras dari alam” yang selama ini tidak pernah kita dengarkan.
Farhan juga menegaskan bahwa sudah saatnya pemerintah daerah berhenti menunda persoalan Sibolangit. Ia mengajak Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution, untuk menjadikan pemulihan hulu ini sebagai prioritas nyata, bukan sekadar wacana. Ia menilai bahwa tanpa keberanian politik untuk menghentikan ekspansi yang merusak dan memulihkan kembali struktur ekologis, bencana serupa akan terus berulang.
“Jika Sibolangit tidak diselamatkan sekarang, Tanah Karo, Deli Serdang, dan Kota Medan akan terus berada di bawah ancaman. Ini bukan isu kecil. Ini urusan hidup dan mati. Saya berharap Gubernur Bobby benar-benar melihat bahwa bencana hari ini adalah cermin kegagalan masa lalu yang tidak boleh terulang,” tegas Farhan.
Ia menyerukan kepada masyarakat Sumbar, Sumut, dan Aceh untuk belajar dari tragedi ini. Menurutnya, kita harus mulai memahami bahwa bencana bukan datang dari langit—bencana lahir dari tanah yang kita rusak sendiri. Ketika hulu ditebang, dibangun, disakiti, hilir akan membalasnya dengan banjir, lumpur, dan korban.
Farhan mengajak masyarakat untuk tidak lagi memandang kerusakan di hulu sebagai persoalan jauh di gunung, karena air tidak mengenal batas administratif. “Apa yang rusak di Sibolangit akan menghantam Medan. Apa yang rusak di Sumbar akan menghantam Padang. Apa yang rusak di Aceh akan menghantam Lhokseumawe dan sekitarnya. Hutan itu mungkin jauh, tapi dampaknya selalu datang ke rumah kita.”(*)
