Medan | Presisi24jam.com-Foto ini dibuat pada tahun 2011, dimana saat itu kami berstatus sebagai jurnalis JPNN Grup (Posmetro Medan) Graha Pena. Disini aku yang paling junior, mereka senior ku. Namaku Ahmad Akbar.
Bekerja sebagai jurnalis di perusahaan terbesar saat itu sungguh sangat membanggakan bagiku. Tidak ada yang membuatku bangga selain bekerja disini dikala itu. Aku bisa berteman dengan siapa saja dan bisa mengenal dunia jauh lebih luas.
Disinilah aku mulai menjalani dunia jurnalistik dan dari sinilah karirku dimulai. Meski dengan keterbatasan ku yang tak pintar, namun sikit demi sedikit aku bisa belajar dan mengikuti para seniorku. Oh ya, kami saat itu jurnalis khusus kriminal.
Sebagai anak yang tak terbiasa hidup keras tentu membuatku terkejut ketika harus masuk ke dunia ini. Setiap hari aku harus menulis tentang “darah , air mata dan air mani”. Tentu hal ini membuatku ragu hingga sempat berfikir untuk berhenti. Namun dengan dorongan para senior, aku bisa melampaui keraguanku dan bahkan mengalahkan para pesaingku kala itu.
Ya, kala itu kami jurnalis baru ada berkisar 30 orang. Saat itu, kami diuji dan ditempah untuk bisa bertahan melewati “sleksi alam”.
Seiring berjalanya waktu, atas kemauan dan suport para senior. Akhirnya aku lolos melati 30 hari masa uji coba karyawan “magang”. Saking sulitnya pekerjaan jurnalistik dimassa itu, tentu dari 30 orang yang diuji, hanya aku yang bertahan dan lolos menjadi jurnalis Posmetro Medan. Yang lain mundur tanpa kabar. Darisinilah tulisan Ahmad Akbar setiap hari mulai masuk sebagai karya jurnalistik setiap hari di koran terbitan Sumatra Utara. Dengan gaji yang cukup lumayan. Haha..
Siapa yang takkenal koran Posmetro Medan kala itu, koran semua kalangan, dari pejabat hingga abang becak pasti membaca Posmetro Medan.
Awal pertama jadi karyawan, tentu aku mendapat pos kerja disalah satu Polsek di jajaran Polda Sumut. Hampir setiap hari, pasti ada peristiwa berkaitan dengan darah, air mata dan air mani.
Hal ini hal wajib yang ditulis, apalagi saat itu “perang” kompotitor antar perusahaan koran masih jadi budaya setiap hari. Masing-masing perusahaan harus mencari berita headline terbaik untuk terbit esok hari. Takahyal, semua peristiwa di Kota Medan kami pasti tau. Karena kami full 24 jam, pagi siang malam hingga pagi lagi. Tak hanya berita, kritik demi kritikan menjadi proyeksi utama setiap wartawan. Hal ini menjadi pro dan kontra setiap hari, banyak yang menginkan berita kami dan tentu ada juga yang tidak.
Kami pun menjadi garda terdepan untuk mengabarkan setiap peristiwa terjadi kepada masyarakat setiap hari, melalui media massa. Sebab kala itu wartawan tau segalanya. Ibarat informasi “jarum jatuh” wartawan juga pasti kami tau. Menjalin hubungan baik antara rekan kerja jelas faktor utama membuat informasi saling terbuka. Dari sini, aku banyak belajar.
Takhanya tentang berita, sebagai jurnalis aku banyak belajar tentang kerja sama team.
Apalagi tentang peristiwa-peristiwa besar yang harus melibatkan kerja sama team, bahkan super team (Kalaborasi wartawan di lapangan dan team redaksi di kantor yang terus memberi arahan untuk mencari data dan narasumber yang faktual). Di lapangan, kami dituntut untuk bekerja sama dengan wartawan Posmetro Medan yang lain untuk menghasilkan berita yang komplet, melakukan investigas dan hipotesis secara bersama-sama. Begitu juga dengan koran lain, seperti Tribun kala itu dan beberapa media cetak seperti Metro 24 (Tempat sekarang aku menulis) dan Metro 24 jam (Waspada dan Analisa gak masuk kompotitor karena berbeda genre, koran putih).
Mereka menurunkan 4 sampai 5 wartawan untuk bersaing mencari informasi terupdate. Pemenangnya ditentukan esok hari, ketika koran terbit dan para jurnalis rapat di kantor. Yang kalah tentu dicaci maki, sedangkan yang unggul jelas ngga dipuji. Hehehe.. Pun demkian, kami tak pernah layu atau apapun jika itu tentang berita, karena kalah atau memang sama saja. Namun keseruan dan keseriuan pekerjaan sebagai jurnalis itu benar-benar nyata dan sangat kami nikmati dengan segala dinamikanya, bahkan sampai berhujung ke hiburan malam. Wartawan Kriminal ni Bos. 🤣
Wartawan di Medan kala itu benar-benar sangat ditakuti dari segi pemberitaan, apalagi terkait korupsi. Hampir setiap hari, koran meneribitkan tentang pejabat lobi-lobi, korupsi, yang dipanggil, diperiksa maupun sebagai tersangka. Tidak ada koruptor yang berhasil lolos dari kamera wartawan, semuanya pasti masuk koran. Para pejabat di mata kami kala seperti orang tak berguna yang minta diampuni. Sekarang semua bisa lolos lewat pintu belakang 🤣🤣
Bahkan kami pernah didatangi oleh sekelomlok oligarki yang mintak untuk semua koran tidak disebar kemasyarakat, mereka mau membeli sebelum koran keluar dari kantor. Namun karena kerennya para Pimpinan Redaksi (Pemred) kala itu, tawaran itu ditolak. Ya, memang dulu dan sekarang berbeda. Kalau sekarang “tarik pucuknya” terus, tetap itu oknum ya.
Akan tetapi, semua itu mulai berbubah ketika ada perombakan perturan di Tahun 2017-2018. Saat itu aku sudah keluar dari Posmetro Medan dan masuk ke Metro 24. Setiap peraturan tentang jurnalistik terus terusik. Dari melemahkan koran, hingga mengubah susunan tetang media massa, hingga beralih ke dunia online. Regulasi untuk melemahkan perusahaan media cetak terus bergulir sampai akhirnya koran di Sumatra Utara “Mati Suri”. Perusahaan koran ramai-ramai tutup.
Kemudian para penguasa mulai menutup akses informasi, hingga melahirkan “sejuta wargad”. Tidak ada lagi berita yang ditulis wartawan cetak berkaitan informasi yang diperkukan masyarakat, koran terpaksa menulis berita pencitraan (berita jilat yang menjijikan). Dampaknya masyarakat bosan dan perlahan mulai meninggali koran. Dari sini, masyarakat benar-benar kehilangan informasi tentang info yang mereka ingin tau, seperti lokasi rawan begal, curanmor dan tempat makasiat yang seharysnya bisa mereka jaga dari sanak saudara mereka. Apalagi tentang isu kebiadapan para pejabat nakal di daerah mereka, tentu berangsur hilang.
Hadirnya “Sejuta Wargad”. Wartawan mulai “digiring” sebagai “budak” dengan wadah media online. Distir untuk bergabung sebagai perpanjang tangan humas. Wartawan kriminal di Medan benar-benar layu. Perusaan koran tak mampu lagi menggaji karyawan, wartawan – wartawan handal berguguran, beralih ke pekerjaan lain dan sebagian mengikiti arus sebagai penjilat demi menghidupi keluarga.
Endingnya, informasi dan berita tentang masyarakat tidak lagi dapat diproleh, wartawan benar-benar habis terbunuh. Media online yang awalnya diharapkan mampu mempermudah memberi informasi ternyata tak tepat sasaran, malah semakin menyulikan. Sebab, sebahagian masyarakat di Sumut sulit mengakses, apalagi masyarakat yang tergolong esdm rendah.
Belum lagi, diambah lagi, lahirnya UU ITE (Pasal Karet) yang bisa “mengubur” wartawan pendobrak kapan saja. Wartawan koran yang beralih ke online mulai tersandra. Wartawan kriminal pendobrak di Sumut benar-benar tamat!.
Hah.. Begitulah ketika ketika para pejabat disusupi oleh oknum pejabat bermental Dunning-kruger Effect. Pastinya melahirkan ketidak adilan dan melemahkan. Tujuannya, agar bisa bebas melakukan apa saja. Merasa benar sengi induvidu, padahal gagal bagi masyarakat.
Tapi yasudahlah.. Pun wartawan era 2025 ini tak seperti era aku ditempah. Namun masih banyak yang bersikap kritis, walaupun lebih banyak yang apatis. Emang lebih baik apatis sih dari pada di kubur dengan UU ITE. 🤣🤣
Aku juga sampai sekarang masih menulis di koran kriminal terbesar di Sumatra Utara (Sumut). Namun dengan suasana yang berbeda dan “pandangan”berbeda.
Oh ya, foto di atas yang berambut gonrong paling atas sebelah kanan, namanya Well Fras Samosir, beliau senior kami paling hebat. Dia banyak membimbing kami hingga jadi panutanku. Namun, beliau sudah meninggalkan dunia ini karena sakit, beliau spesialis berita malam, angin malam membuatnya pergi demi memenuhi keinginan masyarakat untuk mendapat informasi melalui berita, semoga dia tenang disana.
– Artikel ini ditulis bukan bukan untuk mengkritisi, melainkan agar koran tak mati. Pemerintah seharusnya ikut mempertahankan koran. Bukannya negara negara maju seperti Jepang masih mempertahankan koran, bahwa dijadikan budaya minat baca.(Bar)
