Medan | Presisi24jam.com-Kalau dibilang lelah, tentu lelah. Jenuh dan capek adalah kata yang sering terucap, apalagi ketika pekerjaan menguras tenaga dan pikiran. Namun, di balik semua itu, ada kebahagiaan dan kebanggaan yang tak ternilai.
Aisyah Sinaga seorang guru di UPT SDN 060947 dan saat ini dipercaya menjadi wali kelas VB. Di kelas ini ada 29 murid, artinya ada 29 karakter, 29 keunikan, dan 29 cara belajar yang berbeda. Jumat (13/2/2026).
Saya tidak pernah mengeluh menghadapi keberagaman tersebut. Justru saya meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang perlu dibimbing dengan cara yang tepat. Maka, sebagai guru, saya harus terus belajar agar murid-murid saya dapat bertumbuh dengan baik di masa depan.” Ungkap guru SD ini”
Kegiatan kokurikuler kewirausahaan di kelas VB berawal dari kebiasaan sederhana. Setiap kali kami berbincang tentang cita-cita, banyak murid yang mengatakan ingin menjadi pengusaha sukses. Dari situlah muncul gagasan untuk menghadirkan kokurikuler kewirausahaan, apalagi materi ini selaras dengan pembelajaran Bahasa Indonesia yang sedang kami pelajari.
Modul ajar pun disusun dengan matang. Pada pertemuan pertama, saya mengenalkan kepada murid apa itu wirausaha dan bagaimana karakter seorang pengusaha yang baik. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Sekolah, Bapak Ismail Munthe, S.Pd.I, yang memberikan dukungan penuh dan menyaksikan langsung proses pembelajaran.
Pada pertemuan berikutnya, murid-murid diminta berimajinasi: “Jika kalian sudah besar dan ingin membuka usaha, apa yang harus kalian lakukan?” Dari pertanyaan sederhana itu, pembelajaran berkembang menjadi praktik nyata. Murid mulai belajar menjajakan makanan hasil kreativitas mereka. Mereka menawarkan kue dadar kepada siswa lain bahkan dengan percaya diri menemui Kepala Sekolah untuk mempromosikan dagangannya.
Tidak berhenti di situ, murid juga belajar membuka usaha kecil dengan memanfaatkan area depan kelas untuk berjualan es cokelat. Ada pula yang mencoba usaha secara daring dengan membuka pesanan dimsum melalui WhatsApp. Anak-anak belajar tentang keberanian, komunikasi, manajemen sederhana, hingga tanggung jawab.
Agar produk mereka memiliki identitas, saya mengajarkan teknik ecoprint, yaitu membuat motif dari tumbuhan sekitar. Melalui kegiatan ini, murid belajar memanfaatkan alam secara kreatif dan ramah lingkungan sekaligus memahami pentingnya nilai tambah dalam sebuah produk.
Untuk memperkaya pengalaman belajar, saya juga mengajak murid berkunjung ke Pesantren Amrullah Akbar yang beralamat di Jalan Petunia Raya No. 7, Medan Tuntungan. Di sana, murid-murid belajar langsung proses pembuatan tempe serta praktik sablon plastik untuk kemasan produk. Kunjungan ini memberikan wawasan nyata tentang bagaimana sebuah lembaga pendidikan mampu membangun unit usaha yang produktif dan membimbing peserta didik membuka peluang usaha sejak dini.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan orang tua murid kelas VB, Ibu Manda dan Ibu Winda, yang memberikan dukungan serta apresiasi atas pembelajaran berbasis praktik tersebut. Acara ditutup dengan dua permainan kreatif yang melatih kekompakan dan kerja sama tim.
Bersyukur, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh antusiasme. Murid-murid terlihat senang, percaya diri, dan semakin berani mengekspresikan ide-ide mereka.
Melalui kokurikuler ini, saya belajar bahwa ketika guru mau terus belajar dan berinovasi, murid pun akan bertumbuh. Pendidikan bukan hanya tentang teori di dalam kelas, tetapi tentang pengalaman nyata yang membekas dan membentuk karakter. Guru belajar, murid bertumbuh — dan di sanalah pendidikan menemukan maknanya.(faqih).
